Category: Teknologi

Mungkinkah Interaksi Manusia dan Komputer Terjadi?

Ai memiliki kesadaran sendiri masih sangatlah jauh karena pada saat ini masih belum ada penelitian yang berhasil mencapai tahap tersebut.
(Source: www.pexels.com)

Pernahkan Anda membayangkan bagaimana jika komputer yang selama ini digunakan memiliki kecerdasannya sendiri? Tidak hanya kecerdasan akan mampu untuk beroperasi secara independen, tetapi juga memiliki kemampuan untuk saling bertukar informasi dengan sesama komputer tanpa harus diperintahkan oleh manusia? Meskipun mungkin kecerdasan komputer dapat membantu meringankan setengah pekerjaan manusia, akan tetapi hal tersebut sebenarnya sangat menyeramkan.

Tengok saja film Transcendence (2014) yang dibintangi oleh Johnny Depp, Morgan Freeman, dan Cillian Murphy. Film bertema sci-fi tersebut berputar pada kehidupan seorang ilmuwan bernama Will Caster dan istrinya Evelyn yang meneliti tentang artificial intelligence (AI) dan membuat sebuah komputer yang ‘hidup’. Setelah melewati beberapa rintangan yang membuat Will menghadapi sebuah kecelakaan, Evelyn terpaksa memasukkan ‘kesadaran’ Will ke komputer canggih yang telah mereka buat. Naasnya, ‘kesadaran’ tersebut hanyalah sebuah imitasi belaka yang dilakukan oleh AI komputer yang nantinya memiliki kemampuan yang sangat mengerikan yang dapat mengancam kehidupan manusia.

Manusia Takut Akan AI

Memiliki teknologi canggih seperti AI yang dibuat oleh manusia merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Tidak hanya hal tersebut memungkinkan adanya interaksi manusia dan komputer, tetapi juga merupakan sebuah bukti nyata bahwa manusia memiliki kemampuan yang jauh melebihi sebuah komputer dan juga robot. Akan tetapi, AI memiliki fungsi untuk berkembang dengan sendirinya sehingga teknologi tersebut sudah tidak perlu digerakkan dan diperintahkan lagi oleh manusia. Kenyataan tersebut bagi sebagian orang memang lucu karena manusia di kemudian hari akan hidup berdampingan dengan robot. Membayangkannya sangat menakjubkan karena kenyataan tersebut akan terlihat seperti film fantasi yang sehari-hari kita lihat.

Namun, apabila menilik beberapa film seperti Avengers: Age of Ultron (2015), memiliki AI seperti Ultron sangat menyeramkan. Bayangkan saja, sesuatu yang diciptakan manusia dapat berkembang dengan sendirinya sehingga kemampuannya melebihi orang yang menciptakan mereka. Yang membuat takut manusia akan teknologi seperti AI adalah akan adanya kemungkinan bahwa manusia akan memiliki lahan pekerjaan yang semakin sempit, dan juga lama kelamaan akan diperbudak oleh teknologi. Meskipun teknologi seperti itu mengagumkan, tetap tidak semua manusia menerimanya dengan tangan terbuka.

Para Figur Dunia Teknologi Turut Prihatin

Tidak hanya masyarakat awam, beberapa orang-orang yang dikenal sebagai ‘bapak’ teknologi juga khawatir akan adanya pengembangan teknologi komputer AI. Mereka khawatir akan teror yang akan dihadapi oleh manusia. Bahkan, mereka juga menyuarakan kalau kemampuan komputer AI dapat membahayakan manusia. Elon Musk merupakan salah satu yang paling menonjol dalam mengatakan bahwa kemajuan teknologi komputer AI merupakan suatu tanda bahaya.

Di tahun 2017, Musk mengatakan bahwa orang-orang harusnya lebih khawatir akan kemajuan teknologi tersebut. Pasalnya, hal yang dikhawatirkan Musk adalah akan munculnya robot-robot yang tidak mengerti bahwa aktivitas ilegal yang kemungkinan akan mereka lakukan. Hal tersebut dikarenakan robot merupakan teknologi komputer AI yang dimasukkan ke dalam ‘tubuh buatan’ yang tidak memiliki rasa simpati dan empati, sehingga apa yang mereka miliki hanyalah sebuah pengetahuan secara teknis saja. Bahkan pada tahun 2014 Musk memberi label pada kemajuan AI sebagai salah satu ancaman terbesar pada eksistensi manusia. Tidak hanya Elon Musk, seorang ahli fisika Stephen Hawking jug khawatir akan AI yang ‘jahat’. Pengembangan AI secara penuh, meskipun merupakan sebuah evolusi canggih yang memungkinkan adanya interaksi manusia dan komputer, dapat mengakhiri kehidupan manusia.

Pemikiran Terhadap AI Terbagi Menjadi Dua

Ketidaksukaan akan kemajuan dan perkembangan teknologi komputer AI terbagi menjadi dua. Di antaranya adalah kemajuan AI yang nantinya akan memiliki ‘kesadaran’ sendiri yang akan digunakan untuk menghapus ras manusia, dan orang-orang jahat yang akan menggunakan AI untuk kepentingan diri mereka sendiri. Salah satu profesor dari Department of Computer Science of Cornell University bernama Kilian Weinbeger mengatakan bahwa ketika sebuah AI berkembang pesat, ada kemungkinan bahwa mereka akan memiliki kesadaran sendri yang nantinya akan membuat mereka memperlakukan manusia sebagai sekelompok makhluk yang lebih rendah dari mereka.

Meski begitu, Weinbeger mengatakan bahwa hal-hal seperti itu jatuh ke dalam miskonsepsi akan apa AI itu sebenarnya. Menurutnya, teknologi komputer canggih seperti AI beroperasi di bawah batasan yang paling spesifik yang diatur oleh sebuah algoritma yang menentukan cara mereka bersikap terhadap sesuatu. Selain itu, Ai memiliki kesadaran sendiri masih sangatlah jauh karena pada saat ini masih belum ada penelitian yang berhasil mencapai tahap tersebut.

Menerjemahkan Bahasa Melalui Kacamata Pintar

Penggunaan kacamata pintar dalam menerjemahkan bahasa membantu mendekatkan orang lain.
(Source: www.pexels.com)

Memiliki aplikasi atau teknologi yang dapat membantu seseorang untuk langsung memahami bahasa yang tidak diketahui dapat memudahkan kehidupan manusia. Tidak hanya mempermudah seseorang ketika sedang berbincang dengan orang yang memiliki bahasa yang beda, tetapi juga dapat membantu untuk mempelajari bahasa baru. Bayangkan saja, ketika Anda sedang bepergian ke negara asing yang Anda tidak mengerti bahasanya, hanya dengan menggunakan aplikasi atau teknologi seperti itu Anda tidak hanya dapat mengerti tetapi mungkin saja Anda dapat berbicara dalam bahasa itu melalui fitur penerjemahan real-time.

Kacamata Pintar Pertama Buatan Jepang

Aplikasi atau teknologi seperti itu awalnya memang hanya dapat disaksikan dalam beberapa film bergenre sci-fi saja. Kalau pun ada dalam dunia nyata, beberapa baru tersedia dalam perangkat ponsel pintar saja atau phone-based augmented reality (AR) seperti fitur dalam aplikasi Snapchat. Bahkan, permainan Pokemon Go juga menggunakan fitur AR. Meski begitu, ternyata di tahun 2009, salah satu perusahaan di Jepang sudah mengembangkan sebuah kacamata AR yang dapat menerjemahkan bahasa. Kacamata Tele Scouter tersebut merupakan sebuah kacamata yang memiliki mikrofon dan komputer kecil di dalamnya, dan juga sebuah layar kecil yang ditaruh di dekat frame kacamata. Walaupun tampilannya tidak seperti kacamata biasa dan memiliki layar tambahan di depan kacamata, dan juga memiliki mikrofon besar seperti yang sering digunakan oleh para gamers, kacamata ini tampak seperti barang yang langsung jatuh dari masa depan. Cara kerja Tele Scouter adalah ketika seseorang berbicara dengan bahasa asing, mikrofon tersebut akan langsung merekam dan mengirim audio untuk diterjemahkan. Kemudian, kata-kata yang telah diterjemahkan tersebut akan langsung dikirim dan ditampilkan dalam layar kecil tersebut. Dengan begitu, Anda dapat mengerti apa yang orang tersebut katakan dan juga Anda tetap dapat menggunakan bahasa Anda sendiri karena orang lain juga akan mengerti perkataan Anda apabila mereka juga menggunakan kacamata tersebut. Sayangnya, kacamata Tele Scouter tidak memiliki kecepatan yang dibutuhkan dalam dunia nyata agar orang-orang yang menggunakannya merasa nyaman untuk saling berbicara menggunakan bahasa yang berbeda.

Terjemahan Berbasis Teks

Kemudian, di tahun 2014, Google mengeluarkan kacamata pintar versi mereka yang juga dapat menerjemahkan bahasa asing ke bahasa pengguna. Google Glass yang mengakuisisi aplikasi penerjemah real-time Quest Visual bernama Word Lens. Melalui aplikasi tersebut, pengguna dapat secara langsung menerjemahkan bahasa asing. Akan tetapi, aplikasi ini hanya dapat digunakan untuk menerjemahkan tulisan dan tidak dapat digunakan untuk menerjemahkan bahasa asing yang dilontarkan secara vokal. Selain itu, agar terjemahan menghasilkan arti yang akurat, seseorang harus benar-benar tidak menggerakkan kepalanya hingga teks yang diterjemahkan telah dirubah dalam bahasa mereka. Tidak hanya itu, bahasa yang dapat diterjemahkan hanyalah bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Portugis, dan bahasa Spanyol saja. Untuk tampilan sendiri, Google Glass memiliki bentuk seperti kacamata biasa. Yang berbeda hanyalah kacamata tersebut memiliki kamera yang dipasang dalam perangkat tersebut sehingga Anda tidak hanya dapat menggunakannya untuk menerjemahkan sesuatu, Anda juga dapat menggunakannya sebagai pengganti kamera.

Fungsi Penerjemahan Yang Lebih Canggih

Memasuki tahun 2019, salah satu perusahaan bernama Vuzix yang merupakan produsen kacamata pintar mengumumkan bahwa mereka bekerjasama dengan Verizon dan aplikasi Zoi Meet dalam pengembangan kacamata pintar bernama Vuzix Blade Smart Glass yang dapat menerjemahkan bahasa asing yang diucapkan secara real-time. Didesain dengan mengkombinasikan algoritma penerjemahan bahasa, Zoi Meet dapat menerjemahkan 12 bahasa secara real-time sehingga memudahkan penggunaannya. Bahasa-bahasa yang didukung antara lain adalah bahasa Arab, Cina, Belanda, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Korea, Portugis, dan bahasa Spanyol. Meskipun masih terbatas, akan tetapi kacamata ini memiliki fungsi yang lebih mumpuni dan juga tampilan yang indah karena kacamata terlihat seperti kacamata hitam biasa.

Memiliki teknologi canggih yang dapat membantu seseorang untuk menerjemahkan bahasa asing secara instan sangatlah luar biasa. Terlebih lagi apabila bahasa yang diterjemahkan tidak hanya terbatas pada tulisan saja, tetapi juga bahasa secara lisan. Meskipun bahasa yang disediakan masih terbatas dan terdapat kemungkinan bahwa penerjemah real-time tidak akan secepat bagaimana otak manusia bekerja ketika memahami suatu bahasa, peluang untuk pengembangan teknologi canggih masih sangat besar.